Untuk yg Malas Sekolah, Wajib Baca Novel & Nonton Film MARS (Inspirated by True Story)

Bulan Mei di Indonesia identik dengan bulan pendidikan karena di bulan inilah lahir bapak pendidikian Indonesia yg kemudian dijadikan sebagai hari pendidikan nasional yaitu setiap tanggal 2 mei. Berkaitan dengan pendidikan kali ini kami akan membagikan sebuah novel inspiratif tentang pendidikan yg novelnya telah pula di film kan yaitu Novel MARS.

Novel ini menceritakan tentang seorang gadis kecil bernama Sekar Palupi yang tinggal di Dusun Manggarsari, Gunungkidul. Kesehariannya adalah mengembala kambing milik tetangganya bersama temannya, Warjono. Mereka berdua juga sering bermain ke rumah Mbah Atmo, seorang kakek tua yang sudah mereka anggap kakek sendiri. Ibunya, Tupon, sangat ingin Palupi sekolah setinggi mungkin. Tidak seperti dirinya yang buta huruf dan bekerja sebagai penjual tempe keliling dan pemetik daun jati. Tapi, Palupi tidak tahu apa itu sekolah, apa yang dilakukan di sekolah.
            Suatu malam, Palupi dan Tupon melihat langit. Tupon menunjuk sebuah bintang yang bersinar paling terang dengan sinar kemerah-merahan. Bintang yang ditunjuk Tupon adalah Planet Mars, atau ia sebut Lintang Lanthip. Dari Lintang Lanthip itulah Tupon mengajarkan pada Palupi jika ingin pergi ke Mars maka ia harus bersekolah. Sejak saat itu, Palupi selalu melihat Planet Mars setiap senja.
            Tupon berusaha mencari uang agar Palupi bisa bersekolah. Akhirnya setelah sekian lama, uang yang dikumpulkan Tupon cukup untuk menyekolahkan Palupi. Betapa senangnya hati Tuppon bisa melihat putrinya sekolah. Beberapa minggu kemudian, Warjono berubah menjadi bocah yang sangat nakal, ia sering mencuri, merokok, berkelahi, dan bolos sekolah. Akibat kelakuannya, Warjono dikeluarkan dari sekolahnya, ia sering tidur di terminal karena ia kabur dari rumahnya. Tidak ada yang mau berdekatan dengan Warjono kecuali Palupi, karena orang-orang takut anak mereka terbawa kenakalan Warjono.
            Di sekolah, Palupi dikucilkan oleh teman-temannya, ia sering diejek anak jadah (anak yang lahir tanpa bapak yang sah). Padahal bapaknya Palupi meninggal karena tertimbun runtuhan batu saat bekerja di penambangngan batu kapur. Karena sering diejek, Palupi enggan kembali ke sekolah, tapi ia malah pergi ke rumah Mbah Atmo. Saat Palupi ke sekolah, ia langsung dimarahi oleh gurunya. Ketika dikelas, ia langsung diejek Retnowati. Awalnya Palupi tetap bungkam sampai Retno menghina ibunya, ia langsung mengambil pensil dan menghujamkannya ke pelipis Retno karena tidak terima ibunya dihina. Anak-anak menjerit melihat kejadian itu, sehingga mengundang guru untuk datang. Para guru membawa Retno ke UKS dan Palupi dibawa ke ruang guru. Di ruang guru, Palupi mendapat amukan dari para guru. Esoknya, Tupon dipanggil ke sekolah dan Palupi dikeluarkan dari sekolah.
            Tupon tetap menyekolahkan Palupi di SD Muhammadiyah, sekolah swasta miskin yang jaraknya tujuh kilometer dari rumahnya. Sekolah baru Palupi walau fasilitasnya kalah jauh dari sekolah lamanya, tapi Palupi senang karena teman-temannya baik dan tidak mengejeknya.
            Suatu malam, Palupi tidak belajar karena pensilnya hilang. Akhirnya, Tupon keluar rumah menerobos hujan deras untuk membeli pensil di warung. Namun di setiap warung yang ia datangi, stok pensil selalu habis. Usaha Tupon akhirnya berhasil setelah mendatangi warung keempat di dusun sebelah.
            Suatu hari, Warjono ditangkap dan akan dikirim ke kota. Mbah Atmo berusaha menahannya, tapi ia tetap tak bisa, bahkan Palupi menangis ketika Warjono dibawa pergi oleh mobil yang akan membawanya ke kota.
Sebelas tahun kemudian, Palupi dan Tupon pergi ke kota untuk mencari kost karena Palupi akan kuliah, ia mendapat beasiswa kuliah di Jogja. Saat sedang istirahat di masjid, mereka menemukan dompet yang berisi banyak uang. Mereka lalu menghampiri ustad yang ada di masjid itu, lalu mereka bertiga mengembalikan dompet itu yang beruntungnya ada sebuah SIM. Ternyata pemilik dompet itu adalah istri Ali, seorang ustad yang pernah diusir dari Dusun Maggarsari karena dituduh membawa ajaran yang tidak baik. Ali menawarkan agar Palupi tinggal dirumahnya saja.
            Suatu malam, Palupi bersama temannya, Prastiwi selesai berjualan. Prastiwi adalah pedagang angkringan, dan Palupi membantunya hingga pukul dua dini hari. Palupi menolak menginap di rumah Prastiwi karena ia memiliki tugas yang harus ia kerjakan. Saat berjalan di gang yang sepi, ada berandalan yang menahannya, beruntung Palupi di tolong oleh seseorang yang ternyata adalah Warjono.
            Setelah sekian lama berjuang, akhirnya Palupi lulus juga, ia telah menjadi sarjana. Namun, saat Palupi pulang ke Gunungkidul, ternyata Tupon telah meninggal dunia. Palupi sangat sedih. Namun ia juga sangat bangga pada Tupon. Ketika ia ditanya apa yang menginspirasinya, ia pasti menjawab “Ibu”. Berkat Tupon, Palupi bisa di wisuda dan mendapat beasiswa pascasarjana di Oxford University. Ia juga menjadi lulusan terbaik di Oxford University, ia membuktikan bahwa orang berkulit hitam dan memakai kerudung juga bisa sama dengan orang berkulit putih.

            “Dulu, ibuku rela berjalan jauh di malam gelap, di tengah hujan deras, melewati bukit-bukit terjal, demi membelikanku sebatang pensil dan buku tulis agar aku bisa mengerjakan PR yang akan dikumpulkan esok harinya. Ibu tak pernah sedikit pun mengeluh saat bersepeda tujuh kilometer untuk mengantarkanku sekolah. Ibu setiap pagi membuatkanku dadar telur dan nasi liwet yang lezat karena yakin menu itu bisa membuatku bertambah pandai. Dulu, ibuku tak pernah lupa meninggalkan senyum saat mengayuh sepeda jengkinya untuk menjajakan temp eke kampong-kampung atau menjual daun jati yang dipetik di hutan. Di musim kemarau, Ibu mengaku dirinya telah makan agar aku bisa tidur dengan kenyang karena hanya ada sedikit beras yang bisa dimasak. Jika senja, Ibu selalu mengajakku keluar untuk melihat Planet Mars atau disebut olehnya Lintang Lanthip. Jika kalian ingin tahu berapa harga yang pantas untuk seorang ibu, maka harga seorang ibu adalah surga.”

Novel MARS ditulis oleh Aisworo Ang yg mendadak menjadi perbincangan, setelah tersiar kabar di media bahwa karyanya akan diangkat ke layar lebar oleh rumah produksi besar Multi Buana Kreasindo. Film dari novel tersebut rencananya dibintangi para artis tersohor, seperti Kinaryosih, Acha Septriasa dan Jajang C Noor.
Banyak pihak penasaran, siapa sesungguhnya Aishworo yang sebelumnya sama sekali tak dikenal di jagat kepenulisan. Kiprah Aishworo Ang di dunia tulis-menulis novel dalam batas-batas tertentu mirip dengan Andrea Hirata, penulis Laskar Pelangi.
Kusworo atau Aish nama panggilan popupernya, sebelumnya tak pernah menulis cerpen maupun puisi. Ia tiba-tiba menulis tidak saja sebuah novel, melainkan tetralogi (4 novel bersambung) Janji Langit, Janji Langit 2, Janji Langit 3, Janji Langit 4  yang diterbitkan Hikam Pustaka.
Janji Langit mengisahkan perjuangan dua orang dalam mencari Tuhan. Novel Janji Langit dipuji, lantaran dinilai mampu menjadikan filsafat yang identik dengan kerumitan menjadi mudah dipahami, bahkan lucu.
Lelaki sederhana lulusan UMY jurusan Pendidikan Agama Islam ini, selain menjadi seorang penulis, sehari-hari juga sebagai seorang pengajar di SMK Muhammadiyah Tepus Gunungkidul. Sampai kini ia juga masih aktif sebagai tukang loper koran, pekerjaan yang sering kali dianggap remeh oleh mayoritas masyarakat. Ia masih menekuni pekerjaannya meloper koran itu, karena menurutnya merupakan pekerjaan yang menyenangkan.
“Jadi loper koran masih sampai saat ini, sudah 8 tahun. Kenapa masih bertahan sampai sekarang? Ya, karena pekerjaannya singkat, dan bermanfaat. Selain waktunya yang singkat, dengan loper dari jam lima hingga setengah tujuh pagi, saya mendapatkan banyak informasi dari membaca koran-koran  itu” tuturnya.
Setahun berselang, Aish kembali menulis novel dengan judul Mars yang diterbitkan Diva Press. Ia mengaku, untuk proses pembuatan novel Mars ini hanya membutuhkan waktu sekitar 4-5 bulan.  Novel itu menceritakan perjuangan seorang perempuan dusun yang lugu dan buta huruf bernama Tupon dalam menyekolahkan putrinya bernama Sekar Palupi.

Banyak inspirasi dan motivasi dari novel yang saat ini ditayangkan versi Filmnya di bioskop-bioskop Indonesia, untuk anak muda untuk tidak malas belajar/bersekolah dan bagi orang tua untuk tidak pernah menyerah dalam memperjuangkan pendidikan anak.

Joy Mangano, Kisah Entrepeneur wanita sukses yg memiliki 100 paten dr Rumah kecilnya

Joy Mangano dikenal sebagai entrepreneur wanita sukses dan presenter tv untuk penjualan produk yang mengembangkan Huggable Hunger dan inovasinya yang paling sukses, yaitu Miracle Mop, sebagai alat pel kering otomatis sehingga membersihkan rumah jauh lebih mudah. Itu semua diciptakan Mangano lantaran frustasi akibat orangtuanya bercerai, sementara dirinya ingin rumah tetap bersih. Tak disangka, pada 1992 saat penjualan alat itu ia memecahkan rekor penjualan dengan 18 ribu buah dalam waktu 20 menit. Joy juga menjadi presiden untuk perusahaan yang ia bangun sendiri, yaitu Ingenious Designs dan LLC. Ia juga kerap tampil di saluran belanja televisi Amerika HSN.

Mangano mengatakan, telah menemukan 100 item jenis baru yang bermanfaat. Satu hal kuncinya adalah belajar dengan sungguh-sungguh: jika memiliki ide, maka lakukan. Salah satu yang ditawarkan Mangano ditulis dalam biografinya. Mangano pernah bekerja di sebuah rumah sakit hewan di Huntington, New York.

"Dia datang dengan ide neon kerah untuk menjaga kucing dan anjing agar tak tertabrak mobil di malam hari," kata Fergus Mason, penulis Joy: The Unofficial Biography of Miracle Mop Inventor, Joy Mangano dikutip dari New York Post.

Setahun kemudian, ternyata perusahaan properti Hartz Mountain memperkenalkan produk yang serupa dengan Mangano.

Mangano meraih gelar administrasi bisnis pada 1978 dari Pace University. Dia menikah dengan Anthony Miranne dan dikaruniai tiga orang anak. Namun ia bercerai dan mendapatkan uang US$100 ribu. Semua uangnya digunakan untuk membuat inovasi kain pel. Mangano menjual usahanya dari nol dan menjual produknya ke pemilik perahu lokal setempat.

Akhirnya dia terhubung dengan QVC, stasiun televisi yang memasarkan produk rumah tangga. "Dia membujuk QVC untuk mengikutkan produknya, tapi penjualan kecil dan mereka mencoba untuk mengirim mereka kembali," kata Mason. Penjualan produknya ternyata meroket.

Dari laman therichest.com pada 2012 diperkirakan kekayaan Mangano mecapai US$50 juta atau sekitar Rp 695 miliar (kurs Rp 14.900).

Joy Mangano

Lahir: 15 Februari 1956 (60 tahun), East Meadow, New York, Amerika

Pasangan: Tony Miranne (m. 1978–1989)

Orang tua: Rudy Mangano

Pendidikan: Universitas Pace

Anak: Christie Miranne, Robert Miranne, Jacqueline Miranne






Inspirasi dari Film Joy (2015)

Joy 2015 merupakan film yang berasal dari Amerika Serikat dengan genre Drama dan Biografi. Film ini disutradarai oleh David O. Russel dan naskahnya ditulis oleh Annie Mumolo. Artis yang bermain di film ini merupakan artis papan atas Hollywood seperti Jennifer Lawrence, Robert De Niro, dan aktor Bradley Cooper. Film ini dirilis bertepatan pada perayaan Hari Natal yakni pada tanggal 25 Desember 2015.

Film ini menceritakan jatuh bangun Joy dalam memasarkan produk handmadenya. Mulai dari diusir polisi karena melakukan promosi tanpa izin sampai susahnya masuk ke dalam sebuah industri retail dan ditipu oleh rekanan bisnis. Joy menunjukkan bahwa menyerah tak ada dalam kamusnya.

Kehidupan Joy terbilang rumit. Saat ia kecil, ia memiliki bakat untuk menciptakan barang-barang. Bapaknya Rudy, memiliki bengkel truk. Neneknya, narator film ini, yang mendorongnya untuk menggapai cita-citanya suatu hari nanti. Sedangkan ibunya hanya sibuk di kamar menonton film opera jadul kesukaannya. Setelah ia dewasa, entah kenapa mimpi itu semakin jauh. Ia menghadapi dua perceraian, pertama, perceraian ayah ibunya. Ia berpisah dari saudari tirinya, Peggy, yang mengikuti ayahnya. Sedangkan ia, harus bersama ibu dan neneknya. Ia menikah muda dan mendapatkan dua orang anak dari pria penyanyi keturunan Venezuela, bernama Anthony. Mereka pada akhirnya bercerai, tapi Anthony masih tinggal di basement rumahnya selama dua tahun.

Suatu hari, Rudy pulang kembali ke rumah Joy dan ibunya. Ia bermaksud menumpang lagi tinggal untuk sementara setelah berpisah dari kekasihnya. Ayah dan ibunya bertengkar lagi seperti biasanya. Joy menempatkan Rudy di basement bersama Anthony. Mereka berdua bertengkar lagi. Joy memberikan pembatas dan meminta mereka jangan bertengkar. Ia pun pergi kerja di bandara sebagai petugas tiket pesawat.

Tapi, mimpi buruknya terus datang. Ia dipecat dari pekerjaannya. Dalam situasi penuh tekanan di rumahnya, ia mendapatkan mimpi-mimpi buruk dari masa kecilnya. Joy kecil meminta Joy untuk kembali mewujudkan mimpinya, menciptakan penemuan barang, seperti yang mereka lakukan dulu. Saat ia terbangun, ia langsung meminta ayahnya untuk pindah. Ia menjelaskan pada ayahnya untuk berkorban demi dirinya seperti yang sudah dia lakukan saat kecil dan tak jadi masuk kuliah lantaran membantu  sebagai akuntan di bengkel. Ia juga meminta Anthony untuk pindah, karena tidak normal setelah bercerai dua tahun, Anthony masih tinggal di rumahnya. Mereka awalnya menolak, tapi Joy berkeras dan akhirnya mereka pindah.

Ditemani putrinya, Joy menggambar ciptaan terbarunya. Ia berhasil menciptakan sebuah alat pel yang modern yaitu Miracle Pop. Langkahnya tak mulus, karena pabrik yang mengerjakan alat pel itu mengaku memiliki rancangan yang sama. Mereka meminta Joy membayar royalti. Rudy dan kekasihnya Trudy menjadi investor alat pel tersebut dengan ragu-ragu. Joy harus mencari toko yang mau menjual alat pelnya. Banyak yang menolak, karena alat pel seharga 20 dollar itu dinilai mahal, sementara alat pel biasa harga umumnya hanya 5 dollar. Ia nyaris saja ditangkap saat berusaha menjual di depan Walmart.

Atas bantuan suaminya, Joy diantarkan menemui CEO CVC, perusahaan besar yang mengelola Walmart bernama Neil Walker. Awalnya, ia tak diterima dengan serius. Joy meminta kesempatan untuk memperkenalkan alat pelnya di depan Neil. Joy memperagakan bagaimana alat pelnya terbuat dari katun lembut yang menyerap air, dapat diperas secara otomatis (tanpa disentuh) dan dapat dilepaskan untuk dicuci di mesin cuci.

Neil terkesima dan setuju untuk memasarkan produknya di TV Home Shopping. Ia meminta Joy menyiapkan 50 ribu unit. Dengan segala cara, termasuk dengan menggadaikan rumahnya, Joy berhasil memesan 50 ribu unit. Tapi, orang yang mengiklankan produknya yang sepertinya kesal padanya, tidak melakukannya dengan baik. Tidak ada satupun pelanggan yang menelpon untuk membelinya.

Joy stres, tapi ia tidak menyerah. Ia mendatangi Neil dan meminta agar dia yang tampil di TV. Akhirnya Neil setuju. Ia mengingatkan Joy tampil di TV itu akan banyak lampu dan akan sulit buat dirinya yang belum pernah sama sekali melakukannya. Joy tetap bersikukuh. Saat TV mulai siaran, ia sangat kikuk dan tidak bicara sepatah pun di menit pertama. Sebuah telepon masuk, teman baiknya, Jackie berpura-pura menjadi pelanggan dan menanyakan kemampuan alat pel itu. Kepercayaan diri Joy kembali. Ia dengan lancar menjelaskan kemampuan alat pel buatannya dengan gerakan tangan yang bagus. Di luar dugaan, 40 ribu lebih penelpon masuk untuk memesan barangnya, memecahkan rekor penjualan barang lainnya. Neil segera menyadari bahwa Joy akan menjadi sebuah bisnis baru, bukan saja kain pel, tapi juga periklana. Mereka berpelukan dan saling berjanji satu sama lain: jika mereka terlibat dalam persaingan bisnis suatu hari nanti, mereka harus tetap menjadi teman.

Pabrik pembuat kain pel itu ternyata rewel. Mereka meminta tambahan biaya dengan alasan kenaikan bahan baku. Joy tidak setuju karena jika biaya naik maka ia harus menaikkan harga dan itu tidak bagus untuk iklan. Rudy dan yang lainnya menyarankan Joy bersedia membayar.

Berita buruk datang, nenek Joy yang selama ini menjadi motivator utamanya, sakit dan meninggal dunia. Joy dan keluarganya berduka. Sementara itu, tanpa sepengetahuannya, Peggy pergi membayar ke pabrik yang membuat Joy murka.

Ia datang sendiri ke pabrik untuk berbicara dengan Gary Hart, pemilik pabrik. Gary menolak menurunkan harga. Joy meminta melihat mesin produksi untuk membuktikan kebenaran alasan harganya naik. Gary menolak dengan alasan mesin harus disiapkan. Joy curiga. Dalam pembicaraan yang panas, Joy meminta diizinkan ke toilet. Di toilet, ia menemukan pintu masuk ke area produksi. Ia sangat marah mengetahui tidak ada kemiripan rancangan pabrik dengan punyanya, tapi sepenuhnya rancangan dia. Apalagi, pabrik tersebut tidak terlihat memproduksi sesuatu, tapi hanya sebuah gudang merakit. Ia marah, tapi polisi membawanya dengan tuduhan memasuki properti orang lain tanpa izin.

Ia dibebaskan oleh ayahnya dengan jaminan besar. Joy sangat marah saat menceritakan bahwa pabrik itu tidak pernah punya rancangan yang sama. Mereka berbohong. Joy ingin membawa masalah ini ke ranah hukum. Tapi pengacara Joy mengatakan bahwa Joy akan kehilangan banyak dalam sengketa hukum bertahun-tahun dan kemungkinan besar akan kalah karena dengan setuju membayar royalti pada awal produksi, artinya mengakui adanya rancangan yang sama. Trudy meminta kebangkrutan diumumkan untuk mencegah kehilangan uang lebih banyak lagi. Dalam keadaan hutang menumpuk hampir setengah juta dollar, Joy begitu putus asa. Ia ingin menyerah.

Ia menggunting rambutnya menjadi pendek dan mulai mempelajari berkas satu demi satu. Suatu pagi, ia menghilang dari rumah dan pergi ke Dallas, Texas untuk bertemu seorang pria di penginapan. Pria itu memiliki wewenang di pabrik. Joy mengatakan sudah menelpon ke Hong Kong dan mengetahui bahwa ternyata pemilik utama perusahaan tidak mengetahui apapun mengenai produksi kain pel. Joy menyebutnya, penipuan pertama. Penipuan kedua, kata Joy, adalah tidak pernah ada royalti kain pel yang diketahui oleh perusahaan. Ia menjelaskan pengacaranya telah menyiapkan tuntutan hukum untuk hal ini, tapi ia meminta penundaan karena berharap akan ada jawaban baik dari pabrik untuk menyelesaikannya.

Lelaki itu terkejut dan langsung bereaksi akan mengembalikan uang Joy. Joy bersikap dingin. Lelaki itu kembali mengatakan akan mengembalikan beserta bunganya. Joy tersenyum dan mengeluarkan kertas pelepasan hak untuk ditandatangani. Joy menang.

Selanjutnya, penemuan dari Joy ini juga bukan hanya sampai pada alat pel yang modern, kemudian ia menemukan kembali peralatan rumah tangga yang lebih membantu para ibu rumah tangga. Hingga akhirnya dari semua penemuannya tersebut Joy mendapatkan lebih dari 100 hak paten dengan nama ia sendiri. Ia menjadi bos dari perusahaannya sendiri, sementara mantan suaminya menjadi penasihat dan orang kepercayaannya. Ia juga membantu para penemu pemula lainnya untuk mengembangkan penemuannya dengan fasilitas yang baik.

Dengan Neil, ia berteman baik. Neil memberikan informasi rahasia yang akan menghancurkan usaha Joy yang perlu diketahui olehnya. Joy tidak pernah tahu bagaimana nasib kehidupannya sebab semuanya penuh dengan misteri dan akan selalu membawa Joy dengan keadaan yang tidak terduga dengan sendirinya.

Film Joy memberikan sebuah pengalaman hidup yang begitu berharga terutama bagi ibu rumah tangga yang selalu berjuang untuk mendapatkan keadaan perekonomian yang lebih baik.


Setelah nonton film ini, kesan pertama yang bakal muncul adalah energi positif yang diberikan oleh Joy Mangano yang diperankan apik oleh Jennifer Lawrence. Senyum akan terkembang di wajah kalian ketika selesai nonton film ini. Entah karena ikut terdorong untuk tetap semangat mengejar cita-cita dan mengembangkan usaha, atau hanya karena pikiran kembali refresh karena melihat akting kocak JLaw.

Terlahir Buta, Miskin & ditolak Bersekolah, kini di usia 24 tahun Pria ini Mempunyai 4 pabrik

 Usianya masih terbilang muda, 24 tahun. Namun kekayaannya terbilang fantastis. Dia adalah Srikanth Bollant, pemilik Bollant Industries, sebuah perusahaan di Kota Hyderabad, India yang memproduksi kemasan produk ramah lingkungan yang kini bernilai Rp 98,5 miliar.

Namun siapa sangka, dibalik kesuksesannya tersimpan perjuangan hidup yang membuat setiap orang menahan haru. Srikanth terlahir buta dan dari keluarga miskin. Saat lahir para tetangga menyarankan orangtuanya untuk membunuhnya. Mereka berpendapat itu lebih baik, daripada ia menderita seumur hidupnya karena terlahir buta.

Beruntung bagi Srikanth, orangtuanya tak mengindahkan omongan tetangganya. Namun perjuangan Srikanth baru dimulai ketika ia mulai tumbuh. Saat ia mulai masuk usia sekolah, ayahnya yang seorang petani memutuskan untuk memasukkan Srikanth ke sekolah di desanya.

Namun sayang, karena keterbatasannya ia dikucilkan di lingkungan sekolah. "Tidak ada yang mengakui keberadaanku. Aku diberi tempat di bangku paling belakang. Aku tidak bisa berpartisipasi di kelas. Saat itu aku mulai berpikir mungkin aku adalah anak termiskin di dunia. Namun bukan karena kekurangan uang tapi karena kesepian," kenang Srikanth seperti dikutip dari Yourstory, Sabtu (16/4).
Di sekolah ia hanya bertahan dua tahun saja, hingga akhirnya ayahnya memutuskan untuk memindahkan Srikanth ke sekolah berkebutuhan khusus. Di situlah ia mulai berkembang dan banyak belajar. Tak hanya unggul di berbagai mata pelajaran, Srikanth juga sangat unggul di permainan catur dan kriket.

Namun masalah kembali datang ketika ia mulai beranjak masuk SMA. Beberapa sekolah sains menolaknya. Dewan sekolah mengatakan ia hanya bisa mempelajari pelajaran seni. "Apakah karena aku terlahir buta? Tidak, persepsi oranglah yang membuatku terlihat buta," ujar Srikanth.

Setelah ditolak berkali-kali, ia memutuskan untuk memperjuangkan haknya. "Aku menggugat pemerintah dan berjuang selama enam bulan. Hingga pada akhirnya, pemerintah mengatakan aku bisa mengambil pelajaran sains tetapi dengan risiko ditanggung sendiri," sambungnya.

Saat itulah Srikanth melakukan apa pun yang ia bisa untuk membuktikan bahwa mereka salah. Ia mulai mencari buku-buku teks yang kemudian dikonversi ke dalam bentuk audio. Belajar siang dan malam untuk menyelesaikan kursus dan berhasil mengamankan nilai hingga 98 persen dalam ujian nasional.

Kegigihannya saat masa sekolah berbuah manis. Srikanth lulus dan memperoleh beasiswa terbang ke Amerika Serikat untuk melanjutkan studinya. Ia menjadi mahasiswa buta internasional pertama yang diterima di Massachusetts Institute of Technology (MIT), sebuah universitas teknologi paling bergengsi di dunia.

Selepas lulus dari MIT, berbagai perusahaan besar Amerika Serikat mulai berniat meminangnya. Tapi Srikanth memutuskan untuk kembali ke India dan melepaskan kesempatan emas itu. Ia mulai membangun bisnisnya sendiri.
Dan hari ini, Srikanth telah memiliki empat pabrik produksi, masing-masing di Kota Hubli, Kota Nizamabad, dan dua lagi di Kota Hyderabad. Seorang 'angle investor' bernama Ravi Mantha, yang bertemu Srikanth sekitar dua tahun lalu, sangat terkesan dengan ketajaman bisnis dan visi Srikanth.


Ia kemudian memutuskan untuk berinvestasi di perusahaan yang dibangun oleh Srikanth. Tak hanya berhenti sampai di situ, kini Bollant Industries milik Srikanth telah mempekerjakan 150 orang karyawan yang semuanya merupakan para disabilitas. Luar biasa!
SUMBER